Breaking News

Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045

Indonesia siap untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Hal ini dipastikan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Impor berhasil ditekan sedangkan ekspor kian meningkat. Dari tahun 2013-2018 PDB Pertanian terus naik hingga pada tahun 2018 menjadi Rp1.4 Triliun. Pemerintahan Jokowi pun optimis menjadikan Indonesia negara kedaulatan pangan.

Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus mengembangkan pemanfaatan varietas lokal sebagai upaya mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045. Hal tersebut diungkapkan Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Mat Syukur saat mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka Seminar dan focus group discussion (FGD) Pengembangan dan Pemanfaatan Varietas Lokal Indonesia, di Jakarta, Rabu (24/10/2018).

“Kami sangat yakin akan terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 mendatang, bila semua potensi yang kita miliki dapat diberdayakan secara optimal,” kata Syukur dalam siaran resmi yang Kompas.com terima, Kamis (25/10/2018).

Untuk diketahui, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya hayati yang berlimpah (megabiodiversity). Kekayaan sumber daya genetik (SDG) ini seyogianya diikuti dengan sistem pendaftaran, pelestarian, pemanfaatan, perlindungan biofisik (konservasi) dan perlindungan hukum SDG yang kuat.

“SDG yang kita miliki bisa menjadi potensi ekonomi baru dan memberi manfaat sebagai pendapatan masyarakat dengan nilai yang tidak sedikit,” ujarnya.

Menurut Syukur, dalam pengembangan varietas lokal ini, pemerintah belajar banyak kepada Belanda. Negara itu merupakan negara eskportir terbesar kedua dunia di bidang pertanian. Pada 2017 saja, total nilai ekspor Belanda mencapai 113,5 miliar dollar AS dengan produk andalan berupa bunga, umbi, daging, dan susu.

“Meskipun tidak sekaya Indonesia, Belanda bisa memperkaya koleksi dari setiap sumber daya hayati yang dimiliki dengan melakukan pertukaran atau pun dengan berbagai cara. Berkaca keberhasilan Belanda, kami menyambut baik inisiasi itu dengan pendaftaran varietas lokal, sebagai cikal bakal penyusunan database lengkap dari sumber daya hayati kita,” terang Syukur.

Sudah banyak daerah di Indonesia yang menjadikan varietas lokal sebagai indikasi geografis, serta menjadi ikon daya tarik dalam pengembangan pariwisata dan kegiatan ekonomi daerah. Varietas lokal itu, antara lain kopi gayo, beras cianjur, dan beras solok.

No comments