Breaking News

Aliansi Pemuda Petani Garam Minta Pemerintah Hentikan Impor Garam

Sumenep | Politiko News – Aliansi pemuda petani garam diwilayah Kebupaten Sumenep Madura Jawa Timur menyuarakan aspirasi rakyat petani garam.

Aksi demonstrasi digelar di depan Kantor DPRD Kabupaten Sumenep pada pukul 08.00 Wib.

Koordinator aksi, Edi Susanto menegaskan bahwa sistem ekonomi Indonesia masih menganut ekonomi neoliberalisme yang terus dijalankan oleh rezim hari ini, telah membuat kesengsaraan disemua lini masyarakat setempat.

Massa aksi menyuarakan dengan suara lantang tegas ” Hentikan Impor Garam Berikan Kesejahteraan Petani Garam” Naikkan Harga Garam, tuntutan ini yang sering dimuntahkan ke rezim jokowi hari ini,

Kemudian pada tahun 2018 pemerintah Kementrian perdagangan mengeluarkan kebijakan impor garam/ kuota impor garam sebesar 3,7 Juta ton dengan realisasi impor 2,718 juta ton.

Sedangkan kebutuhan garam Nasioanal ditahun 2018, mencapai 3,7 juta ton, kemudian produksi garam Nasional ditahun 2018 sebesar 2,71 juta ton.

Artinya apa, ketika melihat data ini seharusnya kebijakan impor garam harus menyesuaikan dengan kebutuhan Nasional dengan kuota impor garam sebesar surplus kuota garam nasional.

Aliansi pemuda petani garam mendesak kepada pemerintah pusat harus mencabut PP Nomor 9 tahun 2018 isi tersebut adalah memberikan ruang tetap terialisasi impor garam.

Hal ini, disampaikan kepada DPRD Sumenep untuk proaktif pada persoalan petani garam jangan diam dan tutup mata karena DPRD lahir dari rakyat.

Sementara Ketua DPRD Sumenep H. Herman menyampaikan kami sepakat dan mengakomodir tutuntan massa aksi sebagai tugas keawajiban harus di utamakan.

“Progres kami membuat surat kepada PT. Garam soal persoalan anjloknya hargam garam,” jelasnya.

“Dan ditembuskan kepada kementrian perdagangan, kalau diwilayah Kabupaten Sumenep banyak persoalan harga garam yang dipersoalkan oleh Aliansi Pemuda Petani Garam,” imbunya. (Min)


Artikel yang berjudul “Aliansi Pemuda Petani Garam Minta Pemerintah Hentikan Impor Garam” ini telah terbit pertama kali di:

Sumber berita

No comments